E-Learning
ARSITO ARI KUNCORO S.Kom, M.Kom
16 Maret 2022
E-Learning
Sistem pembelajaran elektronik
atau (Electronic learning disingkat E-learning) dapat didefinisikan sebagai
sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan berupa
website yang dapat diakses di mana saja.E-learning merupakan dasar dan
konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Dengan e-learning, peserta
didik (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk
menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat
mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya
yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan.
Fasilitas e-learning yang
lengkap disediakan oleh perangkat lunak khusus yang disebut perangkat lunak
pengelola pembelajaran atau LMS (learning management system).LMS mutakhir
berjalan berbasis teknologi internet sehingga dapat diakses dari manapun selama
tersedia akses ke internet.
Fasilitas yang disediakan
meliputi pengelolaan siswa atau peserta didik, pengelolaan materi pembelajaran,
pengelolaan proses pembelajaran termasuk pengelolaan evaluasi pembelajaran
serta pengelolaan komunikasi antara pembelajar dengan
fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas ini memungkinkan kegiatan belajar
dikelola tanpa adanya tatap muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat
(administrator, fasilitator, peserta didik atau pembelajar).Kehadiran
pihak-pihak yang terlibat diwakili oleh e-mail, kanal chatting, atau melalui
video conference.
Untuk mahasiswa Teknologi
Pendidikan E-learning bukanlah hal baru, karena sudah ada beberapa mata kuliah
yang pernah menggunakan dan memanfaatkan E-learning, seperti misalnya Edmodo.
Pengertian
E-Learning Menurut Para Ahli
Berikut ini terdapat
beberapa pengertian e-learning menurut para ahli, terdiri atas:
1.
Darin E. Hartley tahun 2001
E-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang
memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media
Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.
2.
Matthew Comerchero
E-learning adalah sarana pendidikan yang mencakup
motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi dan teknologi.
3.
Novi Hidayati, 2010
E-Learning adalah konsep pendidikan yang memanfaatkan
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam proses belajar mengajar.
4.
Gilbert & Jones (2001)
E-learning merupakan pengiriman materi pembelajaran
melalui suatu media elektronik seperti internet, intranet atau extranet,
satelit broadcast, audio/video tape, interactive TV, CD-ROM, dan Computer Based
Training (CBT).
5.
The Australian National Training Authority
(2003)
E-learning meliputi aplikasi dan proses yang menggunakan
berbagai media elektronik seperti internet, intranet/extranet, satelit
broadcast, audio/video tape, interactive TV, CD-ROM guna mengirimkan materi
pembelajaran secara lebih fleksibel.
6.
The ILRT of Bristol University (2005)
E-learning sebagai penggunaan teknologi elektronik untuk
mengirim, mendukung, dan meningkatkan pengajaran, pembelajaran dan penilaian.
7.
Udan dan Weggen (2000)
E-learning adalah bagian dari pembelajaran jarak jauh
sedangkan pembelajaran online adalah bagian dari E-learning.
8.
Rosenberg (2001)
E-learning sebagai pemanfaatan teknologi internet untuk
mendistribusikan materi pembelajaran, sehingga siswa dapat mengakses darimana
saja.
Kerangka
E-Learning
Badrul Khan (2005)
menjelaskan bahwa terdapat delapan dimensi untuk mengembangkan e-learning
dengan masing-masing dimensi saling terkait dan saling berpengaruh sebagai
suatu system. Diantaranya sebagai berikut:
1.
Institusional (Penyelenggara)
Adanya unsur penyelenggara yang mengelola masalah
akademik, administrasi, dan layanan kepada peserta didik.
2.
Manajemen
Adanya unsur pengelolaan yang terkait dengan pengelolaan
pembelajaran dan distribusi informasi kepada peserta didik.
3.
Teknologi
Adanya infrastruktur untuk mendukung sistem
penyelenggaraan E-learning.Hal ini meliputi perencanaan dan penyiapan
infrastruktur hadware dan software seperti internet, LAN, WAN, koneksi,
bandwidth computer, server, software, dan lain-lain).Ini sangat penting, karena
jika tidak ada teknologi yang mendukung maka E-learning tidak bisa berjalan.
4.
Pedagogik
Adanya unsur proses belajar dan mengajar yang meliputi
apa yang dipelajari, apa tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, siapa yang
belajar, bagaimana desain, metode, dan strategi pembelajaran yang digunakan
untuk mencapai tujuan.
5.
Etika
Adanya etika penyelenggaraan e-Learning, seperti masalah
hak cipta, hak kekayaan intelektual, aturan main yang berlaku khusus (seperti
sistem evaluasi, kebijakan khusus, dan lain-lain).
6.
Desain Tampilan
Desain tampilan yang meliputi tampilan situs, isi,
navigasi, aksesibilitas, interaktifitas, kecepatan, dan lainnya. Desain
tampilan harus menarik, agar dapat memberikan kesan nyaman kepada peserta
didik. Sehingga peserta didik akan semakin semangat dalam mengikuti
pembelajaran.
7.
Sumber Daya Pendukung
Sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung proses
e-lerarning. Tidak hanya sumber daya alat dan bahan, tetapi juga meliputi
sumber daya manusianya, terutama pengajar yang harus terampil, minimal dapat
mengoprasikan komputer dengan baik dan benar.
8.
Evalusai
Untuk melihat keberhasilan penyelenggaraan E-learning
maka perlu dilakukan evaluasi untuk mengukur keberhasilan pembelajaran maupun
penyelenggaraan e-learning.Sehingga untuk kedepannya dapat memperbaikai
kesalahan ataupun kekurangan yang sudah ada.
Manfaat
E-learning
Ada beberapa manfaat yang
akan didapat dari penggunaan E-learning, yaitu sebagai berikut :
1.
Penggunaan E-learning untuk menunjang
pelaksanaan proses belajar dapat meningkatkan daya serap peserta didik atas
materi yang diajarkan.
2.
Meningkatkan partisipasi aktif dari peserta
didik. Sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak monoton.
3.
Meningkatkan kemampuan belajar mandiri
peserta didik. Sehingga peserta didik tidak selalu bergatung kepada temannya.
4.
Meningkatkan kualitas materi pendidik dan pelatihan.
Dimana materi yang bisa diberikan oleh pendidik akan meningkat kualitasnya
karena bisa mengambil dari berbagai sumber yang ada.
5.
Meningkatkan kemampuan menampilkan informasi
dengan perangkat teknologi informasi, dimana dengan perangkat biasa sulit
dilakukan.
Jenis
Aplikasi E-Learning
Berdasarkan teknologi yang
digunakan, elearning dibagi atas basis teknologi yaitu (Novi Hidayati, 2010) :
1.
Computer Based Training (CBT)
Era dimana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang
berjalan dalam PC standalone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi berupa
materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (video dan audio) dalam format
MOV, MPEG-1 atau AVI. Perusahaan perangkat lunak Asymstrix (sekarang bernama
Clickllearn) mengeluarkan tool pengembangan bernama Toolbook sedangkan
Macromedia juga mengembangkan perangkat lunak bernama Authorware. Dengan
menggunakan tools yang disediakan maka pengguna mempunyai kesempatan untuk
mencoba soal-soal latihan tanpa
batasan jumlah dan tingkat kesulitannya Namun, pada e-learning dengan konsep
ini, komunikasi yang terjadi hanya satu arah.
2.
LMS (LearningManagement System)
Seiring dengan perkembangan teknologi internet di
dunia, masyarakat dunia mulai terkoneksi
dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang cepat diperoleh menjadi mutlak,
dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Disinilah muncul sebuah Learning
Management System atau biasa disingkat dengan LMS. Perkembangan LMS yang
semakin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability
antar LMS yang ada dengan suatu standard. Standard yang muncul misalnya adalah
standard yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Committee), IMS, IEEE
LOM, ARIADNE, dsb. Contoh aplikasi ini adalah Atutor.
Pada aplikasi ini terdapat
fasilitas penulisan materi, upload materi, penugasan, pembuatan bank soal,
pengujian dan penilaian serta fasilitas komunikasi antar pengguna yaitu
chatting, forum dan blog, dan dapat juga ditambahkan modul menarik lainnya
seperti kalender dan photoalbum.
Aplikasi
e-learning berbasis web
Perkembangan LMS menuju ke
aplikasi e-learning berbasis Web secara total, baik untuk pembelajar (learner)
maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan
situs-situs portal yang pada saat ini
boleh dikata menjadi barometer situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar
dunia. Isi juga semakin kaya dengan berpaduan multimedia, video streaming,
serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih
standard, berukuran kecil dan stabil.
Contoh aplikasi ini adalah
Dokeos. Dokeos merupakan free software yang di release oleh GNU GPL dan
pengembangannya didukung oleh dunia internasional. Sistem operasinya
bersertifikasi yang bisa digunakan sebagai konten dari sistem managemen untuk
pendidikan. Kontennya meliputi distribusi bahan pelajaran, kalender, progres
pembelajaran, percakapan melalui text/audio maupun video, administrasi test,
dan menyimpan catatan. Tujuan utama dari dokeos adalah menjadi sistem yang
userfriendly dan flexibel serta mudah dipakai.
Proses
Pengembangan E-learning
Untuk mengembangkan program
e-learning ada beberapa tahapan, dimulai dengan:
1.
Analisis Kebutuhan
Tujuan yang diharapkan dicapai oleh suatu lembaga atau
organisasi. Contoh: Dosen menerapkan teknologi e-learning. Pada akhir semester
prestasi mahasiswa kurang menggembirakan sehingga pimpinan mengambil keputusan
bahwa e-learning diganti dengan tatap muka karena e-learning tidak cocok dengan
gaya belajar mahasiswa yang bersangkutan. Padahal apabila dianalisis, mahasiswa
sangat antusias. Pada kasus ini problem bukan terletak dari pada motivasi
menurun atau e-learning kurang tepat, tetapi karena program e-learning tidak
terakses disebabkan padatnya jaringan.
2.
Mendeskripsikan tingkat kinerja/kompetensi
yang ingin dicapai
Deskripsi ini diperlukan untuk menetapkan materi
pembelajaran, yang harus dipelajari sehingga dipersiapkan dengan baik. Langkah
ini berarti memilih materi serta pengalaman belajar yang sesuai untuk mendukung
pencapaian kompetensi.
3.
Menetapkan metode dan media pembelajaran
Berbagai metode serta media yang biasa digunakan dikelas
tatap muka kemungkinan dapat diterapkan juga pada kelas online.
4.
Menentukan jenis evaluasi untuk mengetahui
keberhasilan pembelajaran
Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran, evaluasi
berupa balikan atau revisi tugas-tugas. Oleh karena itu pendekatan e-learning
berupa pembelajaran mandiri, maka pembelajar harus mengevaluasi diri sendiri
sehingga mengetahui tingkat keberhasilannya.
Kelebihan
dan Kekurangan E-Learning
Berikut ini kelebihan dan kekurangan
E-Learning sebagai berikut:
1.
Kelebihan E-Learning
Pertama-tama kita bahasa dulu apa kelebih dari
E-Learning yang diantaranya sebagai berikut ini:
a. Adanya
fasilitas yang disebut dengan E-Moderating yang dimana pengajar dan siswa dapat
saling berkomunikasi dengan mudah dan cepat.
b. Bahan-bahan
pembelajaran dapat di review kapapun dan dimanapun selama ada koneksi internet
untuk mengaksesnya.
c. Adanya
bahan pembelajaran yang terstruktur dan terjadwal dengan baik melalui internet
serta dapat diakses kapanpun jika diperlukan.
d. Dapat
berdiskusi kapanpun melalaui portal atau forum di internet antara pengajar dan
siswa.
e. Siswa
dapat menjadi aktif dalam proses pembelajaran.
2.
Kekurangan E-Learning
Adapun kekurangan dari E-Learning yang diantaranya
sebagai berikut:
a. Interaksi
secara langsung antara pengajar dan siswa akan berkurang.
b. Proses
pembelajaran akan cenderung mengarah kepada pelatihan bukan mengarah pada
pendidikan.
c. Akan
mengabaikan aspek akademik atau sosial dan sebaliknya dapat mendorong aspek
komersial.
d. Dan
siswa yang tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi akan mengalami
kegagalan.
Tentang Penulis
ARSITO ARI KUNCORO S.Kom, M.Kom
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.